Jumat, 24 November 2017

Pengalaman Odontectomy ( Odontoktemi/ Operasi Pengambilan Gigi Bungsu) : PART I

Karena aku tergolong punya pain tolerance yang lumayan tinggi, aku sempat heran waktu sakit gigi di bagian kiri bawah beberapa waktu yang lalu. Ditambah lagi, sakit giginya tergolong luar biasa sampai menjalar bagian telinga bahkan kepala juga ikutan sakit. Setelah pembiaran selama 1-2 minggu, akhirnya aku memutuskan pergi ke dokter gigi yang praktek di apotek Kimia Farma Batu, drg. Josephine Novita (CMIIW ya dok~ :D).

Setelah diperiksa drg. Novi, ternyata ketahuan kalau gigi geraham kiri bawahku menglami impaksi. Impaksi itu sendiri adalah pertumbuhan calon gigi yang tumbuh secara tidak normal karena terhalang oleh gigi lainnya. Sebagai gambaran, di bawah ini ada ilustrasi pertumbuhan gigi yang impaksi. Kebetulan juga, gambar ini juga mirip dengan kondisi gigiku, tapi punyaku lebih tegak.


source: https://gigisehatalami.files.wordpress.com/

Gigi impaksi seperti ini harus sesegera mungkin diambil karena akan memicu sakit yang berkelanjutan, apalagi kalau sudah berlubang rasa nyerinya bisa berkali-kali lipat.  Tapi masalahnya prosedur pencabutan gigi ini agak berbeda dengan pencabutan gigi biasa karena harus lewat operasi kecil yang disebut 'odontotectomy/ odontektomi'. 

Begitu mendengar kata 'operasi', jantung rasanya dag-dig-dug. Gimana enggak? Sejak dari lahir aku gak pernah dapat jahitan. Untungnya dokter menerangkan kalau operasi itu gak akan memakan waktu sampai setengah jam.

Nah, dokternya pun menyarankan aku untuk foto X-Ray gigi panoramic di salah satu lab di Malang agar dokter juga memperkirakan tingkat kesulitan operasinya. Untuk operasinya sendiri, dr. Novi menyarankan untuk ke RS. Karsa Husada agar bisa ditangani drg. Freddy. Sebelum pulang, aku juga sempat diberi obat antibiotik dan mefamin sebagai pereda rasa nyeri. 

Setelah berpikir panjang dan beberapa pertimbangan aku membatalkan pergi ke lab. Alasannya? Aku terlalu mager wira-wiri lab - RS, apalagi RS yang disaranin dokternya RS umum yang pastinya harus antri dari pagi-pagi. Plus, aku juga belum ngurus BPJS jadi mau operasi dimanapun sama aja bayar T.T

Lewat berbagai pertimbangan aku memutuskan untuk ke RS Baptis Batu, karena aku pernah ke klinik gigiya dan mereka punya alat rontgen gigi. Kalau kalian mau ke sini, disarankan bikin janji dulu biar bisa diambilkan nomer antrian dulu.

Di sana, aku ditangani drg. Silvi yang ramah banget. Setelah aku diperiksa dan difoto rontgen, beliau menjelaskan kalau gigiku yang sebenarnya sudah mulai berlubang walau sedikit. Selain itu, ada beberapa gigi lainnya yang sebaiknya ditambal, but they can wait. Sama dengan penjelasan dr. Novi, bungsu kiri bawahku harus dioperasi kecil, tapi untuk operasinya tidak bisa dilakukan pada hari itu juga karena yang menangani adalah drg. Hari yang kebetulan sedang cuti. Selain itu sebelum operasi, pasien diharuskan mengonsumsi vit. K selama dua hari sebelum prosedur dilakukan.

Total biaya yang aku keluarkan untuk rongent, konsultasi, dan vit. K di RS. Baptis cukup murah,  Rp. 115.000,- kalau tidak salah. Jauh lebih murah dibanding X-Ray di lab swasta yang tarifnya Rp. 225.000,- , belum termasuk konsultasi dengan dokter  dan ongkos bolak-balik. Jadi aku sarankan, gratz kalau kalian sudah mengalami gejala-gejala sakit gigi bagian belakang yang nyerinya sampai telinga atau kepala, aku sarankan untuk langsung pergi ke klinik gigi di RS karena akan lebih menghemat waktu dan biaya. Lebih bagus lagi kalau punya BPJS sih, jadi semuanya gratis tis tis...!

to be continued

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

write your comment here :D